Ketepatan sasaran program Makan Bergizi Gratis (MBG) dianggap belum sepenuhnya selaras dengan tujuan utama pengentasan stunting, maupun pengurangan angka kemiskinan.

Hal itu diungkapkan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa (BEM) Universitas Gadjah Mada (UGM), Tiyo Ardianto. Menurutnya, cakupan penerima manfaat program MBG yang sangat luas justru menimbulkan pertanyaan mengenai efektivitas kebijakan tersebut dalam menjawab persoalan gizi di Indonesia.

Pilihan EditorSyifa Fauziah dan Amin Suciady

BEM UGM Sentil Program MBG: Kepala BGN Ahli Serangga, Separuh Petingginya Militer

Ia mengutip data yang menyebutkan bahwa prevalensi stunting di Indonesia berada di kisaran 19 persen, sementara tingkat kemiskinan sekitar 9 persen. Namun, program MBG justru menyasar hampir seluruh siswa secara luas, mulai dari tingkat sekolah dasar hingga sekolah menengah.

Kalau tujuannya mengentaskan stunting, intervensi gizi paling efektif sebenarnya dilakukan sebelum anak berusia lima tahun, sebelum masa emas perkembangan selesai,”

ujar Tiyo.

Pilihan EditorSyifa Fauziah dan Amin Suciady

BEM UGM Kritik Keras MBG, Dinilai Bukan Program Gizi Tapi Ladang Proyek

Menurutnya, ketika intervensi gizi baru diberikan pada anak yang sudah berada di jenjang SD, SMP, bahkan SMA, dampaknya terhadap pencegahan stunting menjadi sangat terbatas.

Ketika sudah di tingkat SD, SMP, apalagi SMA, intervensinya sudah terlambat,”

jelasnya.

Berdasarkan hal tersebut, Tiyo menilai program MBG berpotensi tidak sepenuhnya berorientasi pada penanganan persoalan gizi maupun pengentasan kemiskinan.

Pilihan EditorSyifa Fauziah dan Amin Suciady

Afiliasi Politik dan Relasi Kuasa Disebut Mengotori Program MBG

Ia bahkan mempertanyakan kemungkinan adanya tujuan lain di balik pelaksanaan program tersebut.

Dari situ kita bisa bertanya, ini benar-benar soal gizi atau bukan? Jangan-jangan ini soal bagaimana sumber daya negara dipakai untuk mengembalikan modal politik dan menyiapkan modal politik untuk pemilu berikutnya,”

tegasnya.

Pilihan EditorSyifa Fauziah dan Amin Suciady

Anggaran per Porsi Disorot, BEM UGM Pertanyakan Pengawasan Dana MBG dan Peran SPPG

Tiyo pun menutup kritiknya dengan pernyataan tajam terhadap program tersebut. Ia menilai, perlu ada evaluasi serius agar program yang menggunakan anggaran negara dalam jumlah besar itu benar-benar tepat sasaran dan memberikan manfaat nyata bagi masyarakat.

Kalau melihat kondisi ini, jangan-jangan ini bukan sekadar makan bergizi gratis, tetapi program yang dibungkus dengan narasi gizi,”

tandasnya.