PT Aneka Tambang Tbk (ANTAM) membuka 2026 dengan kinerja yang melesat di tengah tekanan global. Pada kuartal I-2026, perusahaan membukukan laba bersih sebesar Rp3,66 triliun atau melonjak 58 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu.

Kenaikan ini sejalan dengan pertumbuhan EBITDA yang mencapai Rp5,05 triliun atau naik 55 persen secara tahunan. Sementara itu, penjualan bersih tercatat Rp29,32 triliun, tumbuh 12 persen dibanding kuartal I-2025.

Di tengah fluktuasi harga komoditas dan ketegangan geopolitik global, ANTAM mampu menjaga momentum pertumbuhan melalui penguatan operasional dan strategi bisnis yang adaptif.

Perbandingan Kinerja Keuangan (1Q26 vs 1Q25)

Indikator Keuangan1Q26 (Triliun Rp)1Q25 (Triliun Rp)Pertumbuhan (%)
Penjualan Bersih29,3226,1512%
Laba Kotor5,623,6454%
Laba Usaha4,502,6967%
EBITDA5,053,2655%
Laba Periode Berjalan3,662,3258%
Laba Bersih per SahamRp141,77*Rp88,69*60%

*Satuan dalam Rupiah penuh (bukan triliun).

Emas Jadi Tulang Punggung

Adapun untuk segmen emas masih menjadi kontributor utama dengan porsi sekitar 81 persen terhadap total penjualan. Nilai penjualan emas mencapai Rp23,89 triliun atau naik 11 persen dibandingkan tahun sebelumnya.

Lalu, volume penjualan emas tercatat sebesar 8.464 kilogram, didorong oleh penguatan pasar domestik.

Untuk menjaga kesinambungan pasokan, ANTAM juga menandatangani kerja sama strategis dengan Merdeka Grup melalui perjanjian pembelian dan penjualan emas pada Maret 2026.

Kinerja Penjualan per Segmen Kuartal I-2026

Segmen KomoditasNilai Penjualan (Triliun Rp)Kontribusi (%)Pertumbuhan (YoY)
Emas23,8981%11%
Nikel (Feronikel & Bijih)4,4715%19%
Bauksit & Alumina0,883%24%
Lain-lain0,08*1%

Nikel dan Bauksit Ikut Tumbuh

Selain emas, segmen nikel turut menunjukkan kinerja positif dengan kontribusi 15 persen atau senilai Rp4,47 triliun, naik 19 persen secara tahunan.

Produksi bijih nikel mencapai 3,88 juta wet metric ton (wmt), dengan sebagian besar diserap pasar domestik. Sementara feronikel seluruhnya terserap pasar ekspor.

Di sisi lain, segmen bauksit dan alumina mencatat pertumbuhan 24 persen dengan nilai penjualan Rp879,14 miliar.

Produksi alumina juga meningkat, seiring optimalisasi fasilitas pengolahan yang mulai memberikan kontribusi terhadap kinerja perusahaan.

Situasi Tambang Nikel di Indonesia. (Sumber: Yayasan Indonesia Cerah)
Situasi Tambang Nikel di Indonesia. (Sumber: Yayasan Indonesia Cerah)

Fondasi Keuangan Menguat

Dari sisi neraca, total aset ANTAM mencapai Rp63,30 triliun atau naik 31 persen secara tahunan. Ekuitas tumbuh 17 persen menjadi Rp40,41 triliun.

Posisi kas dan setara kas juga meningkat signifikan menjadi Rp9,04 triliun, memberikan ruang yang lebih luas bagi perusahaan untuk mendukung ekspansi dan operasional.

Direktur Utama ANTAM, Untung Budiharto, mengatakan capaian kinerja keuangan yang positif didukung oleh konsistensi Perusahaan dalam menerapkan strategi pemasaran yang adaptif dan inovatif, serta pengendalian biaya yang efektif dan disiplin di seluruh lini operasional.

Implementasi strategi operasional yang tangguh serta manajemen keuangan yang disiplin dan prudent telah mendorong penguatan kinerja secara berkelanjutan, sehingga memberikan imbal hasil yang positif dan nilai tambah bagi para pemegang saham,”

jelas Untung dikutip dari keterangan tertulisnya, Rabu, 29 April 2026.

Posisi Keuangan Perusahaan

Akun Posisi Keuangan1Q26 (Triliun Rp)1Q25 (Triliun Rp)Pertumbuhan (%)
Total Aset63,3048,3031%
Total Ekuitas40,4134,6217%
Kas dan Setara Kas9,046,9231%

Optimisme di Tengah Ketidakpastian

Sementara itu, dengan fondasi operasional yang kuat dan kondisi keuangan yang solid, ANTAM optimistis mampu menjaga tren pertumbuhan di tengah dinamika global.

Perusahaan menilai kombinasi antara penguatan pasar domestik, efisiensi operasional, serta diversifikasi portofolio menjadi kunci dalam menjaga keberlanjutan kinerja ke depan.