Hasil PISA 2025 menunjukkan capaian akademik murid Indonesia mulai mengalami perbaikan. Namun, peningkatan skor tersebut masih dibayangi persoalan lingkungan belajar, terutama perundungan yang dialami murid di sekolah.

Perhimpunan Pendidikan dan Guru (P2G) menyoroti data PISA 2025 yang mencatat 24 persen murid Indonesia mengalami bullying beberapa kali dalam sebulan.

PISA (Programme for International Student Assessment) merupakan program penilaian tingkat internasional yang diselenggarakan oleh OECD untuk mengevaluasi sistem pendidikan dunia, dimana angka tersebut lebih tinggi dibandingkan rata-rata negara OECD yang berada di level 20 persen.

Temuan itu menjadi perhatian P2G karena kualitas pendidikan tidak hanya ditentukan oleh kemampuan murid dalam membaca, matematika, dan sains, tetapi juga oleh keamanan lingkungan tempat mereka belajar.

Angka Perundungan

Kabid Advokasi P2G Iman Zanatul Haeri mengatakan tingginya angka perundungan harus menjadi alarm bagi satuan pendidikan untuk membangun lingkungan belajar yang aman, nyaman, sehat, dan terlindungi.

Ini menjadi alarm bagi satuan pendidikan untuk menciptakan ekosistem lingkungan belajar yang aman, nyaman, sehat, dan terlindungi,”

ujar Iman dalam keterangan resmi, Rabu 09 September 2026.

Menurut Iman, pemerintah pusat, pemerintah daerah, dinas pendidikan, hingga satuan pendidikan perlu membangun sistem sekolah dan madrasah yang mampu mencegah berbagai bentuk kekerasan.

Bagaimana kualitas atau mutu pendidikan akan dicapai, jika murid alami kekerasan, jika lingkungan belajarnya tak aman,”

tambahnya.

Di sisi lain, PISA 2025 mencatat skor Indonesia mengalami peningkatan pada dua dari tiga aspek. Skor Membaca naik tujuh poin menjadi 365, sedangkan Sains meningkat enam poin menjadi 389.

Namun, skor Matematika justru turun dua poin menjadi 364.

Kenaikan tersebut diapresiasi P2G sebagai indikasi adanya upaya pemulihan pembelajaran pascapandemi.

Namun, capaian akademik tersebut dinilai perlu berjalan beriringan dengan pembenahan iklim keamanan di sekolah.