Abu vulkanik dari erupsi Gunung Anak Krakatau tidak serta-merta jadi pencemar atau racun bagi ekosistem laut. Namun, material vulkanik yang masuk ke perairan dalam jumlah besar tetap bisa memicu perubahan kondisi lingkungan laut.
Pakar Oseanografi Institut Pertanian Bogor (IPB) Prof Agus Atmadippoera menjelaskan dampak abu vulkanik terhadap ekosistem laut sangat bergantung pada konsentrasi material, sebaran, serta proses fisik yang berlangsung di perairan.
Abu vulkanik yang jatuh ke perairan laut tidak serta-merta menjadi bahan pencemar atau racun bagi ekosistem. Itu bergantung pada intensitas dan besarannya,”
kata Agus, dalam keterangannya, Jumat, 11 September 2026.
Menurut Agus, dampak ekologis lebih mungkin terjadi ketika material vulkanik masuk ke laut dalam konsentrasi tinggi. Kondisi itu bisa meningkatkan kekeruhan air sehingga penetrasi cahaya matahari ke dalam kolom air berkurang.
Berkurangnya cahaya yang masuk ke perairan kemudian berpotensi mengganggu proses fotosintesis organisme laut.
Meski demikian, besarnya dampak tak hanya ditentukan oleh jumlah abu vulkanik yang masuk ke laut. Kondisi oseanografi di sekitar wilayah erupsi juga berperan besar dalam menentukan penyebaran material tersebut.
Arus Pasang Surut
Agus menjelaskan gelombang, arus, dan pasang surut bisa memengaruhi pergerakan material vulkanik setelah masuk ke perairan.
Pengadukan oleh berbagai proses oseanografi tersebut bisa bantu menyebarkan sekaligus mengencerkan material vulkanik. Akibatnya, dampak yang ditimbulkan bisa berbeda antara kawasan yang berada dekat dengan sumber erupsi dan wilayah yang lebih jauh.
Menurut Agus, ekosistem di sekitar kawah Anak Krakatau memiliki karakter yang relatif lebih sederhana dan ekstrem.
Dasar laut di sekitar pulau-pulau yang dekat dengan kawah juga cenderung tertutup material kasar, mulai dari pasir, kerikil, hingga sisa longsoran material vulkanik.
Adapun kawasan yang lebih jauh dari kawah, khususnya di bagian utara perairan, memiliki lapisan sedimen yang lebih banyak didominasi lumpur tebal.
Kondisi tersebut justru dapat membuat wilayah yang lebih jauh dari sumber erupsi memiliki kelimpahan organisme bentik yang relatif lebih tinggi.
Silika dan Besi
Dosen Departemen Ilmu dan Teknologi Kelautan IPB Prof Setyo Budi Susilo menambahkan abu vulkanik berukuran halus yang terbawa ke laut tidak seluruhnya memberikan dampak negatif terhadap lingkungan.
Material vulkanik juga berpotensi memberikan manfaat ekologis karena mengandung sejumlah mikronutrien, termasuk silika dan besi.
Abu vulkanik juga dapat berpotensi memberikan manfaat ekologis. Material tersebut mengandung sejumlah mikronutrien, termasuk silika dan besi,”
jelas Setyo.
Setelah mengalami pengadukan akibat arus, gelombang, dan pasang surut, unsur-unsur tersebut berpotensi memperkaya ekosistem laut sekaligus mendukung proses fotosintesis.
Dengan demikian, abu vulkanik tidak selalu menjadi ancaman bagi ekosistem laut,”
lanjutnya.
Selain memengaruhi kondisi perairan, erupsi Gunung Anak Krakatau juga bisa mengubah pola distribusi organisme laut, termasuk ikan.
Setyo mengatakan perubahan lingkungan seperti peningkatan suhu dan kekeruhan perairan bisa membuat ikan menghindari wilayah yang kondisinya kurang sesuai.
Saat semburan dan hujan abu vulkanik terjadi, ikan secara alami bisa bergerak menuju perairan yang dinilai lebih aman. Selain itu, ikan akan memiliki kondisi lingkungan yang lebih mendukung.
Ikan dapat bergerak menuju wilayah yang lebih jauh dari sumber erupsi, termasuk ke arah perairan Samudera Hindia maupun Laut Jawa, bergantung pada kondisi oseanografi dan lingkungan saat erupsi berlangsung,”
tuturnya.







