Sekelompok mahasiswa Universitas Gadjah Mada (UGM) mengembangkan inovasi pasir kucing berbahan dasar limbah ampas tebu. Tak hanya lebih mudah terurai, pasir kucing bernama Felyhart itu juga dirancang untuk membantu pemilik memantau perubahan pH urine kucing.

Inovasi tersebut dikembangkan Tim Felyhart dengan memanfaatkan perubahan warna pada pasir sebagai indikator awal perubahan pH urine. Perubahan warna pada gumpalan pasir kemudian bisa dipindai melalui situs web untuk membantu pemilik mengetahui nilai pH urine kucing.

Meski menawarkan fungsi pemantauan kesehatan, perubahan warna pada pasir tersebut bukan alat diagnosis penyakit. Pemilik tetap dianjurkan membawa kucing ke dokter hewan apabila menemukan tanda-tanda gangguan saat buang air kecil.

Ketua Tim PKM-K Felyhart Arsi Cahyani mengatakan gagasan itu berawal dari persoalan limbah pasir kucing yang sulit terurai. Dari persoalan itu, tim kemudian melihat peluang memanfaatkan limbah ampas tebu sebagai bahan dasar produk yang lebih ramah lingkungan.

Dari situ, muncul gagasan untuk mengembangkan pasir kucing berbahan dasar limbah ampas tebu yang lebih mudah terurai sekaligus membantu mengurangi limbah yang belum termanfaatkan,”

kata Arsi dalam keterangannya dikutip dari laman resmi UGM, Jumat, 11 September 2026.

Indikator pH

Dalam pengembangannya, Felyhart menggunakan ampas tebu sebagai bahan dasar pasir kucing. Tim juga menambahkan indikator pH alami yang bisa menunjukkan perubahan warna sesuai tingkat pH urine.

Selain itu, natrium propionat digunakan untuk membantu menghambat pertumbuhan bakteri pada pasir.

Tidak berhenti pada produk pasir, Tim Felyhart juga mengembangkan situs web untuk memindai dan menganalisis perubahan warna pada gumpalan pasir. Hasil pemindaian kemudian memberikan informasi mengenai nilai pH urine kucing.

Sistem itu ditujukan sebagai alat pemantauan awal agar pemilik bisa lebih cepat mengenali perubahan kondisi kesehatan hewan peliharaan.

Pemilik perlu mewaspadai sejumlah tanda saat kucing buang air kecil seperti mengejan ketika berkemih, sering keluar-masuk kotak pasir, terlihat kesakitan. Lalu, ada darah dalam urine, hanya mengeluarkan sedikit urine, atau bahkan tidak mampu mengeluarkan urine. Jika gejala tersebut muncul, pemilik dianjurkan segera menghubungi dokter hewan.

Adapun dosen pendamping Tim Felyhart, Dr. drh. Madarina Wassisa mengatakan inovasi tersebut juga memiliki potensi untuk membantu menjaga kebersihan pasir kucing. Selain itu, bisa mengurangi risiko penularan penyakit yang berkaitan dengan kontaminasi feses.

Banyak penyakit yang penularannya berkaitan dengan kontaminasi feses. Dengan menjaga kebersihan pasir dan mengurangi kontaminasi, diharapkan rantai penularan penyakit dapat ditekan,”

jelas Madarina.

Pemanfaatan ampas tebu juga jadi bagian penting dari inovasi tersebut. Limbah yang selama ini belum dimanfaatkan secara optimal diolah jadi bahan dasar produk sehingga diharapkan bisa menghasilkan pasir kucing yang lebih mudah diperoleh sekaligus terjangkau.

Salah seorang pengguna Felyhart, Kinar memberikan respons positif terhadap produk tersebut. Ia menilai Felyhart memiliki daya serap yang baik dan mampu menghasilkan gumpalan yang relatif lebih kering sehingga memudahkan proses pembersihan.

Pasirnya bagus dan ternyata bisa menggumpal dengan baik. Gumpalan pasir Felyhart lebih kering sehingga lebih mudah dibersihkan,”

ujar Kinar.

Tren Pet Parenting

Tim Felyhart terdiri atas Arsi Cahyani, Hayya Majida Amani, dan Pratiwi Putri Hasibuan dari Fakultas Teknik, Rayhan Farel Ramadhani dari Fakultas Kedokteran Hewan, serta Humairo Labiiba dari Sekolah Vokasi.

Mereka didampingi Dr. drh. Madarina Wassisa dari Departemen Patologi Klinik, Fakultas Kedokteran Hewan UGM.

Penelitian tersebut mengusung judul ‘Felyhart: Inovasi Pasir Kucing Organik Antimikroba Penekan Transmisi Fekal-Oral dengan Indikator pH Urine Terintegrasi Sistem Pemantauan Kesehatan Digital’.

Arsi mengatakan Felyhart memiliki peluang pasar seiring meningkatnya tren pet parenting, terutama di kalangan generasi muda perkotaan.

Menurutnya, perhatian pemilik terhadap kesehatan hewan peliharaan terus berkembang. Kondisi itu membuka peluang bagi produk yang tidak hanya menawarkan fungsi dasar.

Namun, juga memberikan nilai tambah berupa pemantauan kesehatan dan aspek keberlanjutan lingkungan.

Dengan menyasar segmen pemilik kucing yang peduli terhadap kesehatan hewan sekaligus isu keberlanjutan lingkungan,”

tutur Arsi.