Malaysia kini mulai meningkatkan penggunaan biodiesel untuk mengatasi biaya energi yang melonjak dan mengurangi ketergantungan pada impor bahan bakar.

Didukung oleh industri kelapa sawitnya yang besar, negara ini mendorong penggunaan campuran biofuel yang lebih tinggi sebagai solusi jangka panjang untuk pasar energi global yang bergejolak.

Keputusan ini terjadi saat pemerintah Malaysia menghabiskan lebih dari US$1,8 miliar setiap bulan untuk mensubsidi biaya bahan bakar yang terus melonjak.

Diketahui, bahan bakar hayati diproduksi dari biomassa, dengan minyak sawit sebagai salah satu bahan baku utama, bersama dengan tanaman seperti jagung, tebu, dan kedelai.

Lebih Murah dari Diesel Konvensional

Bahan bakar alternatif ini juga menjadi lebih menarik karena sekarang lebih murah daripada diesel konvensional, menyusul gangguan pasokan yang terjadi akibat ketegangan di Timur Tengah.

Pekerja memuat tandan buah segar (TBS) kelapa sawit ke atas truk di perkebunan kelapa sawit Ogan Komering Ilir (OKI), Sumatera Selatan, Kamis (26/3/2026). Badan Pusat Statistik mencatat ekspor crude palm oil (CPO) pada Januari 2026 mengalami peningkatan 59,63 persen menjadi 2.514 ribu ton atau senilai 2,29 miliar dollar AS dibandingkan pada januari 2025 sebesar 1,485 ribu ton senilai 1,75 miliar dollar AS.
Pekerja memuat tandan buah segar (TBS) kelapa sawit ke atas truk di perkebunan kelapa sawit. (ANTARA FOTO/Angga Palguna)

Saat ini, Malaysia mewajibkan campuran B10 untuk kendaraan, yang terdiri dari 10 persen biodiesel dan 90 persen diesel minyak bumi.

Pemerintah di negara itu juga telah menugaskan pelaku industri untuk meningkatkan produksi dan infrastruktur untuk mendukung peralihan dari B15 ke B20 atau B30. Namun, transisi ini akan membutuhkan waktu.

Menurut Wakil Sekretaris di Divisi Biomassa dan Bahan Bakar Hayati Kementerian Perkebunan dan Komoditas, Sang Yew Ngin, mengatakan bahwa Malaysia memiliki 34 depot pencampuran biodiesel, sebagian besar dirancang untuk kapasitas B10.

Hal pertama yang perlu kita lakukan adalah meningkatkan semua infrastruktur tersebut, tetapi meningkatkan infrastruktur bukanlah pekerjaan sehari. (Hal itu) mungkin membutuhkan waktu satu atau dua tahun untuk diselesaikan dan juga melibatkan pengeluaran modal yang tinggi,”

kata Sang Yew Ngin, dikutip dari Channel News Asia, Senin, 4 Mei 2026.

Selain itu, dibutuhkan sekitar US$151 juta untuk meningkatkan terminal dan infrastruktur guna memenuhi mandat B30 di Malaysia.

Meskipun terdapat kendala infrastruktur, para pelaku industri mengatakan pasokan mencukupi.

Memasok Tambahan Biodiesel 400 Ribu Ton

Petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) melayani konsumen saat mengisi bahan bakar minyak (BBM) bersubsidi di Banda Aceh, Aceh, Selasa (7/4/2026). Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto mengatakan pemerintah melalui surat edaran Badan Pengatur Hilir Minyak dan Gas Bumi (BPH Migas) sejak awal April 2026 telah menetapkan pembatasan pembelian BBM bersubsidi jenis pertalite dan biosolar maksimal 50 liter per hari yang berlaku hingga akhir Mei 2026.
Petugas Stasiun Pengisian Bahan Bakar Umum (SPBU) melayani konsumen saat mengisi bahan bakar minyak (BBM). (ANTARA FOTO/Irwansyah Putra/nym)

Asosiasi Biodiesel Malaysia (MBA) memperkirakan produsen dapat memasok tambahan 400.000 ton biodiesel untuk memenuhi permintaan B15.

Kami memiliki total kapasitas produksi 2,4 juta ton per tahun. Tahun lalu, kami memproduksi sekitar 1,3 juta ton biodiesel, di mana 1 juta ton digunakan untuk program pencampuran biodiesel nasional,”

kata Presiden MBA Tee Lip Teng.

Jadi, kami memiliki kapasitas produksi yang memadai untuk memenuhi permintaan tambahan sebesar 400.000 ton biodiesel,”

tambahnya.

Lebih jauh, biaya juga menjadi faktor pendorong lainnya. Saat ini, harga solar di Malaysia mendekati 6,2 ringgit per liter, sedangkan biodiesel sekitar 4,5 ringgit per liter.